Selasa, 26 Februari 2013
Kamis, 22 Mei 2008
WHY TO MOVE
Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007).
Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana.
Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over (kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.
Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?
Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.
Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat.
Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.
Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam sebuah buku berjudul First Break All the Rules.
Penemuannya adalah sebagai berikut:
Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.
Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.
Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit.
Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang krusial kepada sang bos.
Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari puluhan orang seperti kamu.
Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan.
Demikian pesan Azim Premji.
Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?
Rabu, 21 Mei 2008
Tertawa itu Sehat
Kapan terakhir kali anda tertawa?
Kapan terakhir kali anda merasa senang dan
menghadapi hidup ini dengan tawa?
Tertawa adalah obat yang paling manjur, namun banyak di antara kita yang telah terjebak dalam berbagai aktivitas dan rutinitas hingga kita lupa bagaimana tertawa.
Tertawa adalah sebuah ekspresi emosi. Riset menunjukkan bahwa orang yang sering tertawa cenderung lebih sehat mentalnya dibanding mereka yang jarang tertawa. Orang yang memiliki "SeNsE oF hUmOr" yang tinggi lebih tahan terhadap tekanan dan perasaan kuatir. Sementara orang dengan "sEnSe Of HuMoR" yang rendah lebih mudah merasa tertekan dan kuatir.
Tertawa membuat seseorang merasa dirinya menyenangkan. Tertawa juga membuati seseorang merasa santai, mengurangi rasa malu dan memerangi perasaan tertekan. Tertawa, secara medis, juga merangsang terbentuknya "eNdOrPhIn", sel dalam otak yang berfungsi untuk membunuh rasa sakit.
Riset juga menunjukkan bahwa tertawa dapat membuat seseorang berpikir lebih kreatif. Tertawa membantu seseorang untuk berani berpikir "kElUaR" jalur, sehingga menimbulkan pemikiran yang kreatif dan inovatif.
Riset lain menunjukkan bahwa 1 menit ketawa hasilnya setara dengan 40 menit relaksasi dan 100 menit ketawa setiap hari hasilnya setara dengan 10 menit jogging.
RSS (Really Simple Syndication) merupakan format untuk menyiarkan konten yang sering diupdate, misalnya berita, isi blog, atau podcast. Intinya informasi apapun yang diupdate secara berkala, dan update tersebut bisa dipecah-pecah menjadi beberapa bagian, maka informasi tersebut bisa disiarkan melalui RSS. Saat ini hampir semua situs berita internasional telah menyediakan RSS reader (misalnya, reuters.com, cnn.com, dll), sayangnya hanya sedikit situs di Indonesia yang menyediakan akses RSS.
Kita butuh televisi untuk menangkap siaran TV, dan radio untuk menerima siaran radio. Untuk menerima RSS, Anda perlu feed reader yang kadang disebut sebagai news aggregator atau RSS reader. Beberapa browser sudah memiliki reader ini secara built in (misalnya Firefox, Safari, dan Internet Explorer 7), namun biasanya user lebih memilih RSS reader khusus. Ada RSS reader yang berupa aplikasi desktop, dan ada RSS reader yang berbasis Web. Sebelum membahas lebih banyak mengenai RSS reader, akan saya jelaskan dulu apa gunanya membaca berita dengan RSS.
Dengan RSS kita bisa menangkap siaran dari berbagai web, tanpa harus mengunjungi masing-masing web atau blog satu persatu. Sebagian orang memberikan isi berita dalam RSS secara lengkap, sebagian lagi hanya memberikan potongan berita. Jika kita tertarik pada suatu berita atau informasi kita hanya perlu mengklik link berita, dan akan langsung sampai pada berita yang lengkap pada situs tersebut. Karena kita tidak perlu mengunjungi semua website, tentunya hal ini akan menghemat dan mempercepat akses Internet.
Bagi pemilik website atau blog, dengan RSS, pembaca akan lebih mudah menerima update web Anda. Anda juga bisa menghemat jatah bandwidth situs Anda, karena isi yang dikirimkan dalam format RSS tidak besar.
RSS Reader
Ada banyak software RSS reader versi Desktop yang bisa Anda pilih, misalnya SharpReader untuk Windows, NetNewsWire untuk Mac OS X, Liferea untuk Linux. Beberapa ponsel terbaru juga sudah menyediakan RSS reader, namun jika ponsel Anda belum bisa membaca RSS, Anda bisa mendownload Opera Mini, asalkan ponsel Anda bisa menjalankan aplikasi MIDlet Java.
Saya lebih suka membaca RSS dengan reader versi web, karena saya dapat mengaksesnya ke manapun saya pergi. Beberapa reader yang populer saat ini, yaitu Google Reader, My Yahoo, dan Bloglines. Anda bisa mengunjungi web-web tersebut untuk mencobanya. Cara pemakaian RSS reader semudah memakai email, bedanya dengan email adalah Anda tidak pernah membalas isi sebuah RSS, Anda cukup membacanya.
Jika Anda ingin berlangganan RSS feed situs ini, caranya mudah, jika Anda memakai reader versi web, Anda tinggal mengklik pada link di atas (Subscribe in a reader), dan memilih reader yang ingin Anda gunakan. Jika Anda menggunakan reader versi desktop, Anda cukup mengcopy paste link ini: http://feeds.feedburner.com/BeritaIT ke RSS reader Anda.
Tingkat Lanjut
Beberapa situs mengumpulkan banyak RSS serupa ke dalam satu tempat (disebut sebagai aggregator), misalnya ada aggregator blogger Indonesia seperti Merdeka, dan Planet Blogger. Beberapa aggregator sifatnya hanya untuk komunitas yang lebih kecil (misalnya aggregasi blog Informatika ITB angkatan 1998). Anda juga bisa membuat aggregasi blog komunitas Anda sendiri.
Jika Anda sudah memakai RSS secara ekstensif, Anda akan mulai berharap bahwa semua situs menggunakan RSS. Dengan layanan Feed43, Anda bisa mengambil berita dari situs manapun dan mengubahnya ke format RSS (meski tidak mudah jika Anda tidak mengenal teknologi HTML).
Setelah puas bermain dengan RSS, Anda juga bisa menciptakan timeline dengan menggunakan RSS dengan situs xtimeline. Dan jika akhirnya Anda merasa bahwa RSS yang Anda baca sudah terlalu banyak Anda bisa menggunakan AideRSS yang menggunakan sistem kecerdasan buatan untuk memfilter RSS. Ada 80 juta blog di dunia ini, sehingga jika Anda berlangganan 0.001% saja, Anda pasti sudah kewalahan.
Selamat ber-RSS.
Catatan: berita ini lebih ke arah opini sebagai ibu rumah tangga ![]()
Penemuan baru di bidang tekstil oleh peneliti di Universitas Monash, Australia ini tentunya berita bagus buat para ibu rumah tangga yang selalu mengeluh dan berharap ada baju yang bisa membersihkan dirinya sendiri sehingga pekerjaan rumah tangga bisa berkurang.
Para peneliti yang dipimpin oleh Walid Daoud, seorang peneliti kimia organik dan nanomaterial, menemukan cara melapisi kain dengan titanium dioxide nanocrystals, yang dapat memecah remah makanan dan kotoran yang mungkin menempel di pakaian apabila pakaian itu berada di bawah sinar matahari.
Mereka telah membuat serat alami seperti wool, sutera dan hemp yang akan secara otomatis membersihkan diri sendiri dari remah makanan, kotoran lain yang menempel di pakaian dan bahkan noda dari anggur merah ketika pakaian itu terkena sinar matahari.
Walaupun lapisan titanium dioxide nanoparticles itu bisa mengoksidasi bahan-bahan organik yang menodai pakaian, bahan nanopartikel tersebut tidak akan mendekomposisi wool dan tidak berbahaya untuk kulit manusia. Bahkan menurut Daoud, lapisan nanopartikel ini tidak akan mengubah bentuk dan nilai rasa dari bahan pakaian aslinya. Para peneliti optimis bahwa bahan pakaian yang dilapisi nanopartikel ini sudah akan ada di pasaran dalam waktu 2 tahun mendatang.
Jika Anda tertarik untuk mengetahui cara kerja nanopartikel membersihkan pakaian, silahkan baca artikel lengkapnya. Saya pribadi tidak sabar menunggu bahan pakaian itu beredar dipasaran, dan berharap harga jualnya cukup terjangkau
Sumber : Technology Review
Google baru saja menyelesaikan testing terbatas untuk Google Health dan mulai merilisnya ke publik. Google health adalah website dimana Anda bisa memasukkan informasi kesehatan (misalnya penyakit, alergi, dll) dan sejarah kesehatan (misalnya operasi, imunisasi, dll). Bagi mereka yang tinggal di Amerika, Google bekerja sama dengan partner rumah sakit dan penyedia jasa kesehatan.
Informasi-informasi ini kemudian dapat digunakan untuk berbagai macam hal. Secara umum Google dapat mengindikasikan jika ada obat yang mungkin bereaksi pada Anda misalnya Anda alergi penisilin, tapi mendapatkan obat amoxicilin. Google juga bisa membantu menemukan dokter dan rumah sakit terdekat.
Bekerja sama dengan partner-partnernya, Google juga bisa digunakan untuk memesan resep secara online dan Anda juga bisa mengimpor data-data Anda yang ada pada partner Google masuk ke dalam Google Health.
Silakan baca tour singkat Google Health di: https://www.google.com/health/html/tour/index.html
Sabtu, 10 Mei 2008
Hangout with my fRiends
Yup.. seneng banget bisa hangout ama temen2 ke DUFAN dari pagi ampe malem.. jadi inget naik Kora-Kora yang bikin perut mual trus muntah hehehe... sampe yang terakhir maen Arung Jeram ma temen2, wuchhhh asyik bangetttt.. udah naik sekali jadi ketagihan pingin naik lagi hehehe kita naik ampe 2 kali, basah semua bajunya... :) tapi asyikkkkk jadi pingin lagie..